KEMBALI KE SEMARANG

Dua bulan telah berlalu, Mamisa telah meninggalkan kami dengan tiba-tiba tanpa bisa  mengucapkan selamat tinggal, sedangkan keadaan Anakku semangkin memburuk dan membuat aku hampir menyerah kalah oleh suatu keadaan untuk ke 3 Kalinya dalam kehidupanku.

Pertama kali waktu aku di Semarang masih di kelas 1 di SMA Kolese LOYOLA , yang kedua kali di Semester pertama,di RWTH Aachen…tetapi kalau yang ketiga kali ini aku betul menyerah maka bukan hanya aku yang hancur tetapi kehidupan dan masa depan Anakku yang masih panjang itupun akan hancur­čśč


Ayah macam apakah aku ini???
Dan bagaimana dengan janjiku kepada Mamuschka?
Aku selalu siap Mati demi anakku,mengapa sekarang aku takut hidup untuk anaku ?

Tidak aku harus Tegar…Semangat!!!…walaupun pada saat itu GUN sudah 3 Minggu tidak bicara denganku dan selalu mengunci diri di Kamarnya, sudah beberapa hari dia tidak mau masuk sekolah dan aku harus selalu mencari alasan ke Sekretariat disekolahnya…yang sudah mulai hafal dengan suaraku.

Sementara itu keadaan GUN semangkin memburuk dan susah untuk Berkomunikasi denganku dan seluruh manusia disekelilingnya…sifatnya yang Introvert semakin bertambah buruk.


Yang sangat aku takutkan adalah kemungkinan sekolahnya melapor kepihak kepolisian, yang akan membawa GUN ke Jugendamt dan akan menyatakan aku sebagai orang tua yang tidak mampu mendidik anaknya sebagai layaknya orang-orang Asozial.

Bayangan yang sangat menakutkan bagiku adalah… GUN akan ditaruh di Asrama Anak-anak dari keluarga tak mampu/anak Yatim…dan kebanyakan dari mereka telah tercatat sebagai Pelaku tindak Kriminal.

Asrama yang pada saat itu kebanyakan dipenuhi oleh anak-anak Pengungsi dari negara Timur atau Timur tengah, yang Mohon maaf tidak punya perasaan,Iman, pendirian dan bertabiat untuk menghalalkan segala cara demi mencapai kepentingan mereka.

Mereka bukan lagi Manusia-manusia kecil, tetapi binatang-binatang buas kecil yang berparas Manusia, Bayangan inilah yang sangat menakutkanku,

Akupun sudah memohon langsung berhenti dari pekerjaanku sebagai System Administrator atau IT Support Team untuk Dapat betul-betul  mengawasi perkembangan psychologie anakku 24 X 7 Jam.

Walaupun hal itu membuat Boos dan Teman kantor aku banyak yang kecewa dan akhirnya membuat kesulitan dalam pengurusan Pensiunku saat ini.


Sudah banyak uang yang kuhabiskan untuk merenovasi kamar tidur dan ruang belajar anakku dan membelikan peralatan Musik, Komputer dan lainnya agar dia sedikit terhibur.
Tetapi hal itu tidak merubahnya sama sekali dan bahkan sifatnya yang terlalu di manjakan oleh Mamuschka malah menjadi-jadi.

Anak manja yang terbiasa mendapatkan segalanya tanpa harus melakukan suatu apapun.

Yang hanya ingin di layani dan di utamakan, tanpa harus melayani dan acuh terhadap keadaan dan manusia sekelilingnya.

Setelah banyak berdiskusi melalui Whatsapps dan Line dengan keluarga di Jakarta, dan berdiskusi dengan anakku, apakah dia ingin tinggal di Jerman atau melihat kemungkinan untuk hidup di Indonesia …maka Kita sepakat untuk Terbang ke Indonesia saat itu juga tanpa Persiapan.

Semuanya Kami Tinggal di Jerman, rumah Dan Semua perabotan Lengkap peninggalan Mamuskha yang baru saja selesai merenovasi satu bulan sebelum dia wafat Kami Tinggalkan tanpa dapat menjualnya. Dan Semua Urusan Birokrasipun aku abaikan.

Rumah dan seluruh isinya aku titipkan ke Kakak dari Istriku, yang sampai sekarang juga tidak mengirimkan uang sedikitpun dari Hasil penjualannya, dan dengan alasan yang dibuat-buat malah memutuskan hubungan denganku.


Yang Terpenting dan ada di benakku adalah secepatnya untuk menyelamatkan anakku…Jiwa dan perkembangan GUN merupakan Prioritas pertama untuk Aku.

Tetapi di mana Kami akan Hidup? Di Jakarta, Solo atau di Semarang ???

Kalau di Bali Kurang Baik untuk Perkembangan Jiwa anakku, kalau di Solo di kota kelahirannya GUN, anakku tidak mau juga… Jadi Hanyalah Jakarta dan Semarang Yang Menjadi Pertanyaan Bagi Kami.

Keluargaku semua Tinggal di Jakarta sekarang , dulu mereka juga kuliah di Jerman, selain itu di keluarga besar yang lain bahasa inggris merupakan bahasa komunikasi sehari-hari, karena itu sangatlah mempermudah GUN saat pertama untuk bertukar pikiran dengan keluarga yang lain.

Tetapi entah mengapa aku Berharap untuk Tinggal sementara di Semarang, di rumah dulu masa Remaja di Jalan Pandanaran (Ahmad Yani) No.171.

Sebenarnya aku ingin Tinggal di Semarang, juga untuk tidak langsung terjun di keramaian Ibukota Jakarta, sekalian ingin membangun kembali BISNIS ONLINE yang dulu kami bangun berdua (Mamushka dan aku) di Bali sekitar 14 tahun yang lalu.


Seperti ADAINDO ONLINE SHOP di Tripod itu adalah hasil kerja dari Mamuschka sendiri, sementara aku sangat sibuk mengurus Cybercafe Satria dan produksi di Sanggar Sepatu kami yang saat itu sudah memiliki 25 pengrajin sepatu.


Aku sangat senang waktu mendengar pernyataan GUN yang juga senang dengan suasana Simpang Lima di Semarang.

Sayangnya Kami Tidak bisa terlalu lama menetap di Semarang.


Suatu hari sewaktu aku dan GUN sedang berjalan-jalan di Simpang Lima, ada seorang ibu yang menghampiri Kami dan menanyakan bagaimanakah hubunganku dengan GUN…yang membuat kami tertawa terbahak-bahak.

Ternyata ibu itu seorang Mantan Topmodel di era 80 an, yang ingin sekali bekerja sama dengan GUN kalau aku perbolehkan.

Sudah barang tentu itu keputusan GUN, dan memang ia dari kecil sudah beberapa kali masuk majalah Mode di Jerman.

Dan ternyata mereka berdua langsung cocok dan akrab seperti ibu dan Anak.

Dan Ibu Lielo itu ternyata lebih sering menetap di Jakarta, karena beberapa Pusat Perusahaannya yang juga bergerak di Dunia Mode dan Property itu ,pusatnya juga di Jakarta.

Maka akhirnya Kami berdua pindah lagi ke Jakarta…yah jadi inget lagunya KoesPlus – Kembali Ke Jakarta

Sampai Dicerita berikutnya dan Jangan lupa Komentarnya­čśç

loading…

powered by Surfing Waves

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *